Suratmu di Malam Minggu

Posted on Thursday 6 March 2008

“Ucapanmu hari ini membuatku bermimpi
membangun rumah di samping rumahmu, malam ini,” katamu di bantalku.

“Sesekali, bolehkah aku datang bertandang di rumahmu,
mengetuk pintu, duduk di kursi, minum kopi dan bercerita
tentang kunang-kunang di depan rumahmu?” tanyamu di tidurku.

“Aku cemburu kala ada yang bertamu di rumahmu.
Salahkah jika aku yang hendak menerima tamumu
dan mengatakan kalau kau adalah rumahku?” jujurmu di mimpiku.

“Ah, aku ingin melamarmu saja!
Agar kau jadi istriku, juga ibu untuk anak-anakku
agar rumahmu menjadi tempatku, tempatmu dan anak-anak kita!” keputusanmu
di suratmu malam ini, di malam minggu.

PS: huehehe… :P

alina @ 4:18 am
Filed under: Puisi
[Kisahku] Maafkan Aku, Membiarkanmu Menunggu!

Posted on Tuesday 19 February 2008

     Tanggal 2 February lalu, sekali lagi, aku menginjakkan kakiku di negeri Menara Kembar Petronas (The Twin Towers) Kuala Lumpur, Malaysia. Kira-kira, pukul 9:30 pagi,   aku dan seorang ibu memasuki bandara KLIA (Kuala Lumpur International AirtPort).

      Berhubung karena orang yang ditugaskan menjemput kami belum datang, maka kami masuk di sebuah restoran untuk sarapan. Maklum, kami tidak sempat sarapan sebelum berangkat. Tetapi, malangnya, sudah hampir 1 jam kami menghabiskan makanan, penjemput yang ditunggu-tunggu belum juga datang. Akhirnya, kami keluar dari restoran itu. Dan, tidak lama kemudian, orang yang ditugaskan menjemput kami menelpon kalau dia berhalangan datang karena adanya urusan penting. Dan, katanya dia sudah menyuruh orang lain untuk menjemput kami.

       Sekali lagi, kami menunggu. Saya dan Ibu Ivy duduk di sebuah besi panjang (yang memang diperuntukkan sebagai tempat duduk) sambil memandang hilir mudik orang-orang yang datang dan pergi, silih berganti.

       Tiba-tiba, seorang ibu yang memakai baju kurung (Istilah orang Malaysia untuk pakaian yang sewarna berpasangan/baju lengan panjang dengan rok panjang) menghampiri saya dan mengatakan sesuatu yang tidak jelas terdengar di telingaku. Entah apa yang ditanyakan? Seperti biasa, jika kambuh penyakit egoisku (hehehe… :P ), saya menjawab, “Tidak!” Ya, kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Begitulah kalau saya ingin mempersingkat dialog :D

      Mungkin, karena ibu itu merasa kalau apa yang dia inginkan tidak mungkin beliau temukan pada diriku, maka dia memilih melangkah agak jauh dari tempatku, duduk. Kembali aku larut dalam pemandangan tadi (hilir mudik mobil dan orang lalu lalang yang entah kapan mencapai tahap keletihannya). Aku dan Ibu Ivy sama-sama diam. Seakan-akan orang akan kehabisan bahan bicara jika sudah jemu menunggu. Padahal, sejak di pesawat tadi, tidak henti-hentinya kami bersembang. Sedangkan, ibu itu berdiri tanpa melepaskan pegangan tangannya dari koper rodanya yang berwarna biru kehitam-hitaman.

      Orangnya pendek dan kulitnya agak hitam. Rambutnya keriting dan pendek. Matanya agak cekung. Orangnya kurus. Sandal tipis berwarna hitam mengalasi kaki-kakinya yang mulai menampakkan ketuaan. Beliau memakai baju kurung berawarna hijau muda menyala. Bagiku, beliau mampu memadankan busana-busana yang dipakainya dengan potongan tubuhnya.

      Tidak lama kemudian, datang sepasang anak muda berdiri di sampingnya. Beliau tetap menatap jalanan. Dalam hati, aku begitu yakin, kalau nasibku sama persis dengan nasibnya, yaitu menunggu. Menunggu penjemput yang katanya akan datang menjemput kita, tetapi malah dia yang di jemput. :D

      “Lin, saya beli newspaper dulu ya! Mau ikut?”
      Aku hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum masam menanggapi pertanyaan Ibu Ivy. Ya, aku akui, aku sudah amat letih menunggu. Namun, keletihanku itu beralih ketika samar-samar terdengar percakapan dari ibu tadi dengan sepasang anak muda yang berdiri di sampingnya.
        “…Pukul berapa dia janji nak datang menjemput Mak Cik?” tanya Sang Pemuda
        “… asal saya sudah sampailah!” jawabnya.
        ”Mak Cik punya nombor teleponnya tak?” tanya Sang Pemuda lagi.
        “Ada, tetapi bukan dia yang punya. Punya jirannya…” jawab beliau.
        “O…!” hanya huruf itu yang keluar dari mulut Sang Pemuda tadi.

       Namun, nampaknya, Sang Ibu masih ingin bercerita, tetapi pemuda itu sudah mulai mengalihkan perhatian ke jalanan. Lalu, Ibu itu mencoba berkomunikasi dengan Sang Gadis. Mereka pun ngobrol. Entah apa yang mereka obrolkan? Aku sudah tidak mendengarkannya. Apalagi, saat itu, Ibu Ivy memberiku surat kabar. Media yang banyak mengelu-elukan PM Malaysia, Datuk Sri Abdullah Ahmad Badawi. Di halaman berikutnya, “Seorang warga Indon ditangkap polis karena memilki kartu pengenalan palsu”. Ada juga berita pemerkosaan. Dan, tidak lupa pula, berita seorang anak kecil (kalau tidak salah berumur 9 tahun) dinyatakan hilang alias diculik. Masih banyak berita dalam negeri. Dan, di halaman terakhir, berita olahraga.

       Kembali saya memalingkan wajah memandang tempat Sang Ibu tadi berdiri. Beliau masih di sana. Sedangkan, sepasang anak muda tadi sudah melangkah pergi. Timbul rasa kasihan dan rasa penasaran dalam dadaku. Aku berdiri, lalu menghampirinya. Kuberanikan diri bertanya, “Ibu sedang menunggu anaknya ya?”
       “Iya!” jawabnya sambil menatapku
       “Pukul berapa katanya dia hendak datang menjemput ibu?”
       “Dia cakap, saat aku sampai, dia pun datanglah!” jawabnya dengan logat Melayu Malatsianya yang kental. Huruf  akhiran ‘a’ berubah bunyi jadi ‘e’.
        “Ibu sudah menelponnya?” tanyaku
        “Tak!” jawabnya sambil menggelengkan kepala.
        “Ibu punya nomor telepon anak ibu?” tanyaku lagi
        “Ada. Tapi…, ” beliau tidak melanjutkan kata-katanya.

         Aneh. Dia mempunyai nomor telepon, kenapa tidak dihubungi saja? Menanyakan persoalannya. Sudah berjam-jam, beliau berdiri menunggu. Tiba-tiba, akalku menebak sesuatu. Sehingga membuat bibriku bergerak lagi bertanya, “Ibu punya HP?” tanyaku.
       “Ha?” beliau menganga. Ya, ampun! Aku lupa. Kalau di Malaysia itu, orang-orang mengeja huruf-huruf ala bahasa Inggeris. Aku tertawa dalam hati. :D
        “Ibu punya telepon? Maksud saya, handphone?” ulangku kembali.
        “Tidak ada!” jawabnya yang sekali lagi disertai gelengan kepala.
       “Saya punya, Bu! Biar saya telepon anak Ibu!” kataku sambil merogoh tas putihku. Secepat kilat pula, beliau merogoh tas kepit biru mudanya. Tidak lama kemudian, nokiaku sudah siap di remote dan tangan beliau sudah menyodorkan secarik kertas putih. Lalu, menunjukkan nomor telepon mana yang harus aku hubungi. Karena di kertas itu ada beberapa nomor telepon.

         Singkat cerita, terdengar sambunga, tut… tut…tut…
         “Hallo!” terdengar suara perempuan di sana. Segera saya menyerahkan HP itu ke tangan beliau. Mereka pun ngobrol sebentar. Entah bahasa apa yang mereka pakai? Yang jelasnya, bukan bahasa Melayu ala Malaysia. Tidak lama kemudian, beliau menyerahkan HP itu ke tangannku.
        “Sudah dekat ya, Bu?”
        “Ha?” kembali dia memperlihatkan mimik tanda tidak mengertinya pada ucapanku.
        “Anak ibu sudah mau datang?”
        “Tak! Dia ada kursus dulu…”
        “Jadi…?”
        “Nanti dia beri kau nombor telepon. Dan, dail nombor tu!” katanya. Aku hanya mengangguk. Dan, tidak lama kemudian, nada dering sms HP-ku mengalun. Sebuah sms masuk ke HP-ku itu seperti ini:

013-807####(saya sembunyikan) galiong namanya.
trimakasih ya… bg tau emak saya suruh dail no ni

          Aku pun menghubungi nomor telepon seperti suruhan dari sms itu. Sekali lagi terdengar bunyi, tut…tut…tut…
        “Hallo!” … suara laki-laki. Lagi-lagi, tanpa berkata apa-apa, saya langsung menyerahkan HP ke tangannya. Mereka pun berbicara dengan bahasa yang sama. Tiba-tiba mobil putih datang yang sopirnya memandang kami sambil memperlihatkan gigi.
       “Sudah sampai!” kata ibu Ivy dengan nada gembira. Aku pun ikut tersenyum. Saya bergegas berdiri mengangkat tas cokelat tempat pakaianku. Begitu pula dengan Ibu Ivy, mengangkat kopernya. Melihat gelagat itu, Sang Ibu berbicara terburu-buru. Setelah menyimpan barang di bagasi mobil, aku menghampiri sang ibu tadi. Sedangkan, Ibu Ivy memandangku dengan heran dari belakang. Ibu tersebut menyodorkan HP itu ke arahku tanpa ucapan apa-apa.
       “Anak ibu sudah mau datang?” tanyaku

Beliau hanya memperlihatkan giginya. Entah dia tidak mengerti bahasaku atau memang, anaknya tidak akan datang? Entahlah! Walaupun heran bercampur penasaran aku tetap minta pamit, “Saya duluan, Bu!”
         “Tunggu!” katanya tiba-tiba. Beliau merogoh tasnya. Dan, meraih dompetnya. Nampak dari tangannya, beliau menarik uang kertas dari dompetnya tersebut.
         “Ha?” kini, giliran saya yang memakai gayanya. hehehe… :D “Saya ikhlas kok membantu Ibu! Saya bukannya mau dibayar!” kataku dengan senyuman manis. hehehe… :)

        Beliau pun menatapku tanpa berkata apa-apa.
       “Saya duluan ya, Bu!” kataku sekali lagi.
       “Awak orang apa?” tanyanya tiba-tiba.
       “O… saya orang Indonesia, Bu!” jawabku tanpa kehilangan senyuman.
        “Suamiku juga orang Indonesia. Tetapi, sudah meninggal…” katanya dengan senyuman yang dipaksakan.
       “O…!” kataku sambil menganggukkan kepala. “Saya jalan, Bu!” ucapku ketika menyadari kalau Ibu Ivy ternyata masih memandangku dengan heran dari belakang dengan mulut menganga di sana, di samping mobil itu.

        Aku melambaikan tangan padanya saat aku sudah berada di dalam mobil.
      “Kenapa?” tanya Ibu IVy
      “O… saya menolong dia dengan meminjamkan HP padanya. Kasihan! Dia tidak punya telepon. Sedangkan, dia sudah lama menunggu anaknya. Tetapi, tidak datang-datang juga!” jelasku. Ya, waktu itu sudah menunjukkan menghampiri pukul 2 siang.
         “Hati-hati! Sekarang, banyak orang jahat, Lin! Pura-pura kasihan, tetapi dia akan menghipnotismu. Mengambil semua barang-barangmu… bla bla bla… !” kata Ibu Ivy.

       Hehehe…. Aku hanya tertawa lepas. :D
        Kemudia, sejenak, aku berbalik memandang ke belakang. Beliau masih di sana. Namun, bukan berdiri, tetapi duduk. Hampir saja, air mataku jatuh. Saya merasa seakan-akan yang di sana itu adalah ibuku yang sedang menungguku. Lalu, aku mengetik sms dan mengirim sms itu ke nomor yang terakhir dihubungi tadi:

Silahkan jemput ibu Anda!
Beliau sudah lama menunggu…
Mohon maaf dan terimakasih.

        Sebenarnya, aku ingin menelpon seseorang di antara mereka. Tetapi, aku takut orang itu akan marah karena menganggap saya terlalu ikut campur urusan orang lain. Maka, aku memilih diam. Walau hatiku masih dibayang-bayangi oleh wajah ibu tadi.

      “Dan, kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu bapaknya, ibunya telah mengandung dia dengan susah payah dan melahirkan dia dengan susah payah pula; ,mengandung dan menyusuinya selama 30 bulan” (al-Ahqaf:15)

         “Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun! Dan, berbuat baiklah terhadap ibu bapak!” (An-Nisak:36)

        Dan, dibeberapa surah lainnya yang setiap selesai Allah menyuruh hamba-Nya hanya menyembah kepada-Nya, menghargai dan berbuat baik kepada ibu bapak akan sentiasa diikutkan. Anda boleh menemukannya di QS. al-Isra’ ayat 23-24 atau Luqman ayat 14-15.

       Dalam hadist pula…
       Seorang laki-laki datang kepada Nabi Muhammad saw dan bertanya, “Siapakah manusia yang lebih berhak saya layani dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu! Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Nabi menjawab: Ibumu! Dia bertanya lagi: Kemudia siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu! Kemdian, dia bertanya lagi: Kemudian siapa lagi? Nabi menjawab: Ayahmu!” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Ada 3 orang yang tidak akan masuk surga: 1)Orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya; 2)lelaki yang tidak ada perasaan cemburu terhadap keluarganya; 3) Perempuan yang menyerupai lelaki.” (Riwayat Nasa’i, Bazzar dan Hakim)

        “Ada seorang lelaki datang kepada Nabi, kemudian berkata: saya datang hendak berbaiat kepadamu untuk berhijrah, tetapi saya tinggalkan kedua orang tuaku dengan menangis. Maka jawab Nabi: Pulanglah dan perbuat kedua orang tuamu itu dengan ketawa, sebagaimana engkau telah membuat mereka menangis.” (HR Bukhari)

         “Ada seorang lelaki datang kepada Nabi minta izin pergi berperang, kemudian Nabi bertanya: apakah kedua orang tuamu masih hidup? Dijawab: Masih! Maka sabda Nabi: Berjuanglah untuk kedua orang tuamu itu!” (HR. Riwayat Bukhari dan Muslim)

       Subahanallah! Betapa agung dan mulianya kedudukan seorang ibu dalam agama Islam. Di dalam Al-Qur’an, kedua orang tua berada di posisi kedua sesudah ‘Hanya menyembah kepada Allah”. Begitu pula di dalam hadist Rasulullah. Sampai-sampai berbuat baik kepada kedua orang tua (terutama ibu) lebih besar pahalanya dibandingkan dengan pergi berjihad fisabilillah! Subahanallah!

        Tentu sebagai umat Islam, sudah pasti tidak asing lagi dengan kisah Alqomah yang tidak bisa mengucapkan 2 kalimat sahadat ketika sedang sekarat karena lebih mementingkan istrinya daripada ibunya. Ada pula riwayat Zuraij, seorang pemuda Islam yang taat beribadah. Yang suatu hari dipanggil oleh ibunya ketika beliau sedang sholat. Sehingga lahir hukum kalau ketika sedang sholat sunnah panggilan ibu wajib dijawab. Dengan kata lain, membatalkan sholat sunnah tersebut. Kecuali, kalau sedang sholat fardhu.

        Saya pernah membuat ibuku menangis ketika sudah sangat cemas menungguku pulang dari sekolah (waktu itu, saya masih di bangku SMA kelas tiga). Saya pulang agak malam karena hari pertama saya mengikuti Bimbel dari forum Gadjah Mada Makassar. Padahal, saya sudah memberitahu beliau ketika pagi sebelum berangkat ke sekolah.

        Namun begitu, beliau tetap cemas. Saat saya melangkah masuk di lorong ke rumahku yang agak remang-remang (waktu itu sudah menghampiri pukul 7 malam), tiba-tiba dari arah depan, ada 2 sosok tubuh yang sedang berjalan ke arahku. Hati saya berdebar-debar. Ternyata itu adalah ibuku beserta kakakku.

       “Kenapa telat pulang, Nur?” tanyanya dengan nada agak tinggi.
       “Bukankah tadi pagi Nur sudah mengatakannya pada Ibu?” kataku. Tiba-tiba ibuku duduk. Terdengar suara tangisan. Ya, ibuku betul-betul menangis. Nasib, rumah orang tidak berdempetan amat. Aku serba salah. Aku pun duduk di depannya.
       “Ibu sudah lama menunggumu!” sela kakakku.
       “Ibu pikir, kamu sudah dilarikan oleh sopir pete-pete!” kata ibuku di sela-sela tangisnya.

       Ingin rasanya, saya tertawa mendengar alasan beliau. Tetapi, tidak jadi. Malah, yang ada cuma air mata juga. Aku membimbingnya pulang ke rumah karena saat itu juga, ada seorang tetangga melalui jalan itu. Sesampainya, di rumah aku meminta maaf beberapa kali sambil berbaring di sampingnya. Ya, aku suka sekali tidur di samping ibuku sambil memeluknya. Walaupun sudah sebesar ini. Ibuku kadang berkata, “Tidakkah kau malu seperti anak kecil?” Biasanya, aku hanya menambah eratkan pelukanku. Ibuku adalah surgaku! Hehehe… :)

      Mungkin, Anda-anda akan merasa lucu dengan jawaban ibuku ketika menangis itu? ya, ibuku masih dibayang-bayangi kejadian yang telah menimpah 3 kakak perempuanku beberapa tahun yang lalu (sudah 10 tahun lebih). Waktu itu, 3 kakak saya (Hasnawati, Musnira, dan Arifah) pulang dari rumah kakak tertuaku yang sedang sakit. Menjelang subuh, 3 kakakku itu pamit pulang karena sudah harus masuk sekolah. Dan tetangga di situ mencarikan mobil pete-pete untuk ke-3 kakakku tersebut. Malangnya, sudah sampai di tempat tujuan, si sopir tak menghentikan mobilnya. Malah, membuatnya semakin laju. Sehingga ke-3 kakakku itu (kelas 6, kelas 4 dan kelas 3) memutuskan melompat dari mobil. Ya, mereka melompat di tengah kelajuan mobil tersebut. Orang-orang mengira kalau yang jatuh adalah baju. Akhirnya, ke dua kakakku berpulang ke pangkuan-Nya. Yang hidup cuma Kak Arifah yang kini sudah mempersembahkan 2 kemenakan kecil untukku. Itulah yang selalu membayangi ibuku. Saat-saat yang menyakitkan ketika beliau keluar daerah.

       Jadi, marilah kita sama-sama memuliakan ibu kita. Menempatkan pada posisinya yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadist. Mari, sama-sama belajar menjadi anak yang berbakti!

        Semoga kita semua menjadi ahli-ahli penghuni surga karena sesungguhnya ridho Allah adalah dari ridho ibu kita juga. Amin. :)

alina @ 8:10 am
Filed under: Sayangi Ibu
Di Ingatanmu dan Di Dadaku

Posted on Friday 1 February 2008

Aku tahu, di ingatanmu,
aku telah tumbuh jadi pepohonan hijau
yang rimbun. Tempatmu bersenandung
tentang lagu-lagu rindu akan pulang
tempat sepasang merpati putih bersarang.

Dan, mungkin, kau tidak tahu, di dadaku,
kau telah tumbuh jadi rerumputan lumut
yang gembur. Tempatku berbaring memandang
bunga-bunga mawar merah yang didatangi kupu-kupu.

Akankah ingatanmu bisa bersarang di dadaku
seperti sepasang merpati putih itu, bersarang di pepohonanku?
Dan, akankah dadaku bisa mendatangi ingatanmu
seperti kupu-kupu itu mendatangi mawar merah di rerumputanmu?

alina @ 3:44 am
Filed under: Puisi
3 Wajah Yang Anda Idamkan

Posted on Thursday 31 January 2008

*Ini tulisannya Bapak Epri Abdurrahman (epriabdurrahman.multiply.com/journal/item/127/3_Bentuk_Wajah_Yang_Anda_Idamkan)

Kelak, pada hari kiamat, ada sekelompok orang yang dibangkitkan dalam keadaan wajah-wajah mereka laksana bintang gemerlapan. Malaikat akan bertanya kepada mereka, “Apa gerangan amal-amal kalian?”

Dan, mereka pun menjawab, “Kami dahulu, apabila mendengar suara adzan segera bangkit dan berwudhu, tak satu pun menyibukkan diri selain darinya.”

Kemudian, akan dibangkitkan sekelompok orang lainnya. Wajah-wajah mereka laksana bulan purnama. Setelah ditanya, mereka menjawab, “Kami selalu berwudhu sebelum masuk waktu shalat.”

Dan, terakhir dibangkitkan sekelompok lainnya. Wajah-wajah mereka laksana matahari, mereka akan menjawab, “Kami selalu mendengar adzan dari dalam mesjid.”

Yang terakhir ini, tingkatannya jauh lebih tinggi dari dua yang sebelumnya. Jadi, mulai kini, anda dan saya harus berpacu menjadi yang terbaik di hadapan Allah. Tak peduli seberapa sibuk pun kita. Amin. :)

alina @ 7:12 am
Filed under: Agama Islam
[Cerpen] Di Rumah Sakit

Posted on Thursday 31 January 2008

      “Kamu kenapa, Mer?” tanya Dian sambil mendekat ke arahku. Sejenak dia memegang bahuku. Aku diam saja tak memberi respon apa-apa padanya. Aku menatap kosong ke depan seakan-akan yang ada di permukaan danau itu, kosong juga. Tak ada harapan buatku.

      “Kamu punya masalah?” tanyanya lagi. Lagi-lagi akau hanya diam. Kemudian terdengar hembusan napasnya yang panjang. Seakan-akan dia sengaja memperdengarkannya di telingaku kalau dia tidak suka dengan sikapku itu.

      Lalu, sama-sama kami berdiam diri dalam beberapa saat. Bedanya, dia bagaikan asyik dengan sebuah buku di tangannya itu. Ya, dia selalu membawa buku jika aku mengajaknya ke tempat ini. Hari ini pun, aku yang memaksanya ke sini. Ya, itulah sifatku. Kadang membuat orang lain tersiksa dengan keegoisanku.

      “Jika kamu pernah dibohongi oleh seseorang, apakah kamu akan mempercayainya kembali?” tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku dari permukaan danau itu.

       Sejenak dia diam tanpa merespon pertanyaanku barusan. “Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?” tanyanya sambil memandangku. Lalu, megalihkan pandangannya kembali ke buku itu.
      “Pernahkah kau membohongi seseorang?” tanyaku lagi.
      “Saya amat yakin, semua orang pasti pernah berbohong,” katanya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku itu.
      “Jika kau dibohongi, adakah kau akan mempercayai kembali orang itu?” aku kembali menanyakan pertanyaan yang sama.
      “Dulu, saya amat membenci orang yang pernah membohongiku, Mer!” katanya sambil mengalihkan pandangannya ke arah hamparan danau itu juga. Tempatnya mataku bertahta dari tadi. “Aku bahkan tidak memberi kesempatan padanya untuk membangun kepercayaan lagi. Aku menjauh darinya,” sambungnya.

      “Namun, suatu ketika, tanpa saya sengaja, saya telah membohongi seseorang juga. Tetapi, orang itu tetap saja mempercayaiku. Aku pikir, dia tidak tahu kalau aku membohonginya, ternyata, jauh-jauh hari ketika aku berterus-terang padanya. dia pun berterus-terang kalau dia tahu tentang pembohonganku itu. Waktu itu, aku malu dan tentu saja menyesal. Karena selama ini, memang saya tidak pernah membohongi siapa-pun,” sambungnya.      “Katanya, setiap orang berhak untuk mendapatkan kepercayaan dan kita berkewajiban memberikan kepercayaan itu. Selama dia berkeinginan untuk tidak mengulangi lagi pembohongan itu. Bukankah tidak ada manusia yang sempurna? Bukankah yang membuat kita sempurna adalah kesalahan yang pernah kita lakukan? Asalkan kita berusaha memperbaiki kesalahan itu. Asal kita tahu tentang taubat yang hakiki…” katanya panjang lebar.

       “Adakah semua orang seperti itu, Dian?” tanyaku tanpa memalingkan muka memandangnya.

      Dia hanya diam tak bergeming tanpa dengan tatapan yang masih saja di danau itu. Seakan-akan pertanyaan yang aku lontarkan, jawabannya ada di sana.
     “Entahlah!” keluar juga jawabannya.

     “Kenapa kamu tiba-tiba bertanya aneh-aneh seperti itu?” tanyanya kemudian.

       Sejenak, kuhirup dalam-dalam udara yang berkeliaran di situ. Aku ingin menghilangkan segala beban dan sesak dadaku yang kurasakan dari tadi. Ya, dadaku sesak dengan beribu-ribu kilo penyesalan. Aku benci dengan kesesakan itu. Aku benci dengan penyebab kesesakan itu. Ya, aku benci dengan diriku sendiri. Karena dirikulah yang membawa kesesakan pada dadaku sendiri. Ternyata, beginilah rupanya kalau terlanjur berbuat salah.

      “Aku telah membohonginya, Dian! Aku telah melakukan kesalaha yang besar. Aku telah membohongi orang yang amat aku sayangi. Aku telah membohongi wanita yang telah berbuat baik kepadaku. Aku pikir, itu bisa dianggap sebuah permainan. Sesuatu yang mengundang tawa. Ternyata, aku salah besar. Ya, aku tahu kalau selama ini aku tidak pernah membohongi siapa pun. Selama ini, aku adalah anti dibohongi. Selama ini, aku amat membenci orang yang telah membohongiku. Tetapi, sekarang….” akhirnya air bening di pipiku mengalir dengan perlahannya menelusuri liku-liku hidungku.

       Dian hanya menatapku dengan wajah keheranan.
       “Ya, aku tahu, aku melakukannya itu dengan menganggapnya canda. Aku tahu, itu. Bahkan, aku sudah meminta maaf. Dan, dia mengatakan kalau dia sudah memaafkan aku. Aku juga tahu kalau dia adalah orang yang baik, pemaaf dan insan yang patut diteladani. Tetapi, kenapa hati ini masih saja dihantui perasaan bersalah? Kenapa masih saja aku berpikir kalau aku telah kehilangan dia?” kubiarkan air bening itu terus mengalir. “Aku tahu selama ini, aku belum pantas untuk berada di sisinya. Aku tahu kalau dunia kami amat berjauhan. Dia terlalu tinggi untuk aku lihat bagi kepalaku yang rendah ini. Aku tahu, itu. Entah mengapa aku begitu terlalu berani menganggap kalau aku sudah bisa hidup di sampingnya. Sudah bisa tertawa bersama. Entah mengapa aku begitu mudah bermimpi…?”

     Dian hanya diam seribu bahasa. Seakan-akan memberiku kesempatan untuk mengeluarkan semua isi hatiku.
     “Ternyata melakukan kesalahan, sekecil apa pun itu, ternyata amat berat resikonya ya?” tanyaku dengan senyuman lucu. Lalu, menghapus air mataku.

      Kupandangi lagi air danau itu. “Masihkah aku bisa mengembalikan wajahku yang dulu? Wajah yang pertama kali dikenalinya. Ah, pasti itu hanyalah hayalan semata. Pasti wajahku sudah cacat di matanya. Cacat yang tidak akan pernah pulih seperti sedia kala. Bukankah begitu, Dian?” tanyaku pada Dian. Kali ini, kupandangi mukanya yang juga memandang mataku. “Iya, kan?” tanyaku lagi.

       Dian mengalihkan pandangannya ke depan. Ada butiran bening mengambang di matanya. Aku tahu perasaan sahabatku amat mudah tersentuh.
      “Tuhan saja Maha pemaaf, Mer, apalagi dia. Tuhan saja Maha mempercayai hamba-Nya, apalagi dia. Tuhan saja senantiasa menerima hamba-Nya yang datang walau dalam keadaan apa jua, apalagi dia. Percayalah! Kau masih Mer yang dulu di matanya. Seperti aku menganggapmu Mer yang tidak akan pernah berubah. Karena itulah hidup. Di situlah kita harus mengambil himah atas semua ini. Ini pelajaran buat kamu agar kamu juga berusaha untuk membuka pintu kepercayaan buat orang yang pernah membohongimu, dulu. Lihatlah, betapa adilnya dunia ini, bukan?” tanyanya.

       “Adil?” terasa lucu kata-kata itu di telingaku.
       “Iya!” jawabnya sambil memandangku. Rupanya dia ingin meyakinkan aku kalau dia serius dengan kata-katanya. “Bukankah tidak ada yang baik kalau tidak ada yang baik kalau tidak ada yang buruk? Bukankah tidak ada yang mulus kalau tidak ada yang kasar? Bukankah tidak ada yang kaya kalau tidak ada yang miskin? Bukankah tidak ada hitam kalau tidak ada yang putih? Bukankah tidak ada yang tinggi kalau tidak ada yang rendah? Begitu seterusnya. Begitu juga dengan kesalahan dan kemaafan. Tidak pernah ada kata maaf kalau tidak ada manusia yang pernah berbuat kesalahan. Iya, kan?”

        Sejenak aku tertawa lepas. Walau air mataku masih saja mengalir. Ah, begitu munafiknya diriku ini! Menangis sudah, masih mau tertawa. Adakah aku manusia normal?

      Tak terasa waktu terus berjalan tanpa ada yang mampu menahannya. Seperti hatiku yang masih saja dipenuhi rasa gundah dan penyesalan. Ya, akan kubawa kegundahan dan penyesalan itu ke mana saja kakiku melangkah. “Maafkan aku wahai orang-orang yang pernah membohongiku! Ya, maafkanlah jika aku pernah menutup pintu kepercayaan untukmu. Dan, maafkanlah wahai orang yang pernah aku bohongi! Maafkanlah aku! Aku menyesal atas semua itu. Aku baru sadar, kalau beginilah rasanya kalau melakukan kesalahan. Terimakasih atas kesadaran yang kau berikan kepadaku. Aku tidak akan memintamu untuk memasang wajahku yang dulu di matamu. Aku tidak akan pernah memintanya karena aku sudah tak berhak tentang itu. Cuma satu yg ingin aku tanyakan padamu, masihkah ada pintu kepercayaan untukku di matamu atau di hatimu?”

       Kuhembuskan napas pelan-pelan. Kupandangi permukaan danau yang pelan-pelan diterpa cahaya senja. Diam-diam kuraih sebuah pulpen di sampingku. Diam-diam pula lahir sebauh puisi dari jiwa penyesalan yang amat dalam.

Di Rumah Sakit

Di sini, di rumah sakit ini,
kau pernah meminta perpisahan,
“Jangan pernah mencintaiku!
Tidakkah kau takut aku meninggalkanmu
karena kanker di dadaku?” katamu padaku

Di sini pula, di rumah sakit ini juga,
aku pernah meminta perpisahan.
“Aku tidak takut atas kepergianmu.
Yang kutakutkan jika aku yang meninggalkanmu,’ kataku
saat ada berita kesembuhan kankermu.

Kini, di rumah sakit ini lagi.
Aku terbaring mengenang kenangan di sini.
Disaat aku dan engkau meminta perpisahan.
Diri ini, mengharap engkau kembali lagi di sini.
Walau aku tahu, engkau pergi bukan untuk kembali.

Biarkanlah aku di sini, tetap di sini
di rumah sakit ini, untuk mencintaimu,
mencintaimu dan tetap mencintaimu,
di sini, di rumah sakit ini, di dalam puisi ini.
Dan, bukan hanya saat ini.

Terimakasih, Sahabat! Engkau telah memberiku sebuah pengertian tentang sebuah kesalahan. Sekali lagi, terimakasih! Ucapku dengan dada yang masih sesak. Dengan harapan angin senja akan mengantarkan kata-kataku ini padanya.

catatan: thanks a lot kepada seorang bidadari yang telah menginspirasi saya tentang tulisan ini. :) (29 January 2008)

alina @ 7:00 am
Filed under: cerpen
Mari, Jatuh Cinta!

Posted on Monday 28 January 2008

Entah mengapa hari ini saya selalu terpikirkan tentang ‘cinta’. Untuk itu, saya ingin menularkan perasaan cinta saya pada Anda-Anda semua. Sebenarnya, sudah lama saya jatuh cinta. Sudah beberapa tahun yang lalu. Tetapi, maaf! Saya lupa tahunnya. Ya, begitulah cinta, kata orang. Selalu membuat orang lupa banyak hal. Bahkan, waktu jatuh cintanya pun lupa. Karena cinta tidak bisa diungkapkan lewat kata-kata, cukuplah, raskan cinta itu! (*Ingat cinta universal* :) )

Sampai detik ini, saya sudah berani berkata kalau saya tidak bisa hidup tanpa kekasihku itu. Ya, saya betul-betul berani berkata demikian. Karena jika dalam sehari saya tidak bertemu dengannya, saya merasa kehilangan. Untuk itu, saya selalu menciumnya beberapa kali dalam sehari. Tetapi, anehnya, cintaku ini kadang diselingi air mata. Karena justru di situlah kenikmatana cinta yang kurasakan.

Sebelum bercerita jauh, mungkin lebih baik kalau saya perkenalkan dulu kekasihku itu pada Anda-Anda semua. Seperti kata orang, tak kenal, maka tak sayang. Tak sayang, maka tak cinta. Tak cinta, maka tak apa-apa. Hehehe… Ah, tidak perlu bertele-tele! Namanya adalah Al-Qur’an. Ya, begitu indah namanya, bukan? Tidak ada persamaannya satu pun di dunia ini.

Saya bercerita tentang Al-Qur’an, bukan berarti saya ini ahli agama, ahli Al-Qur’an atau ahli-ahli lainnya. Sama sekali, tidak dan bukan. Saya hanyalah seorang gadis yang sedang jatuh cinta pada Al-Qur’an. Kenapa saya berkata, jatuh cinta? Karena jujur, sejujur-jujurnya. Dulu, saya amat malas membaca Al-Qur’an. Saya hanya membacanya jika ada penghapalan Al-Qur’an di sekolah.

Saya tidak tahu, sejak kapan saya mencintai Al-Qur’an. Yang jelasnya, sesudah saya membuat peta hidup, lalu membuat “Kegiatan Wajib Dalam Sehari”. Salah satu kegiatan wajib itu adalah membaca Al-Qur’an setiap hari. Mulanya, saya hanya membaca maksimal dua lembar dalam sehari, yaitu sebelum tidur.

Jujur, awal-awalnya, amat susah. Sekali lagi, amat susah sekali. Seakan-akan saya menghabiskan waktu berjam-jam lamanya dalam menghabiskan dua lembar itu. Tetapi, saya sudah bertekad kalau kegiatan itu adalah sebuah komitmen. Saya HARUS melakukannya. Suka atau tidak, memang HARUS. Walau orang-orang sudah tidur, saya masih mengaji. Tentu saja dalam hati saja. Entah mengapa saya malu memperdengarkan suara. Padahal, di dalam rumah tidak ada orang lain. Semuanya, keluarga.

Akhirnya, lama-kelamaan, saya merasa kalau bacaan Al-Qur’an saya menjadi mulus. Tidak tersendat-sendat lagi. Mulailah saya memperdengarkan suara, tetapi pelan-pelan. Kalau dibulan Ramadhan, sebelum masuk waktu berbuka puasa, pasti ada tadarru Al-Qur’an di radio. Mulanya, saya merekam suara ngaji itu. Kalau saya kepepet, saya langsung saja menyambar kaset-kaset yang ada dalam rak kaset di dalam kamar adikku. Saya tidak memperhatikan kaset apa yang kuraih. Pokoknya, saya tidak ingin ketinggalan sedikit pun. Hingga, kadang adik saya marah-marah karena kebiasaan saya itu. Kalau dia marah, saya diam saja. Karena memang saya yang salah. Apalagi, kalau kasetnya itu masih baru. Lambat laun, kebiasaan saya itu berubah. Saya tidak merekam lagi. Tetapi, mengikuti cara bacanya orang-orang yang mengaji dalam radio tersebut.

Hingga, disuatu bulan Ramadhan, saya sholat di sebuah mesjid yang agak terpencil. Waktu itu, Al-Qur’an disorong ke kiri, disorong ke kanan. Tidak ada orang yang mau mengaji. Kalau tidak salah, waktu itu, ustadz yang ditunggu-tunggu tidak hadir. Jadi, mulailah ada suara sumbang untuk mengaji saja. Tetapi, anehnya, pengurus mesjid itu pun, ikut-ikutan menyorong-nyorong Al-Qur’an. Aneh sekali. Entah mengapa tiba-tiba atau bisa-bisanya saya meraih Al-Qur’an yang dari tadi berpindah-pindah dari shaf depan sampai ke shaf tengah, tempatku duduk dengan kakakku. Denga sok PD, saya naik mengaji di mimbar dalam mesjid itu. :P

Waktu itu, saya hanya membaca beberapa lembar saja. Sejujurnya, saya juga malu dengan sok PD-ku itu. Ketika saya berhenti, terdengar suara sumbang, “Lagi!” … “Masih mau!”.. Aduh! Saya tambah malu. Dengan pipi kemerah-merahan, saya kembali ke tempat dudukku. Tiba-tiba, kakakku berbisik di telingaku seperti ini, “Kenapa gak bilang-bilang kalau kamu pintar mengaji, Dek?”. Mataku yang besar, tambah membesar. Ya, mataku membelalak. Pasti kakakku sedang meledekku. Sesampainya di rumah, dengan antusias, kakak bercerita pada ibu. Nasib, saya bukan tipe orang yang suka ngambek. Kalau tidak, pasti saya sudah mengurung diri di kamar. Tidak mau makan. (halah! :P ).

Akhirnya, saya sering mengaji di mesjid. Gara-gara itu pula, pernah seorang nenek mengejutkan aku dengan mencium tanganku. (Astagafiroallah al’adzim! Mungkin dilain kali saya akan menceritakan kisahku ini dengan topik yang berbeda. Insya Allah.)

Saya yang dulunya hanya mengaji jika hendak tidur, mulai berubah. Mula-mula, seusai sholat subuh atau magrib (sambil menunggu waktu Isya). Lambat laun, hampir setiap usai sholat, saya mengaji. Lama kelamaan, saya kecanduan Al-Qur’an. Kalau tidak ada buku bacaan, saya pasti meraih Al-Qur’an. Entah mengapa juga, kadang kalau saya mengaji, air mata saya berlinang-linang. Padahal, saya tidak mengerti Bahasa Arab. Saya tidak bisa menggambarkan bagaimana saya menggambarkan perasaan cinta saya itu. Lagi-lagi, itulah cinta.

Kemudian, saya mempunyai buku kecil, “Tarjamah Majmu’ Syarif, Jalan Menuju Bahagia Dunia dan Akherat” oleh Achmad Sunarto. Yang di dalamnya menjelaskan fadhilah-fadhilah surah-surah penting dan do’a-do’a yang cukup panjang (salah satunya do’a Akash yang panjang sembilan lembar kalau tidak salah). Salah satu surah yang ada di dalamnya adalah Surah Yaa Siiin. Mulanya, di daftar kegiatan harianku, Surah Yaa Siiin hanya saya baca dalam satu kali sehari (saat pengen tidur). Dan, akhirnya tiga kali sehari (subuh, siang dan malam).

Kalau saya kelupaan, sepertinya ada sesuatu yang hilang dalam hidupku. Hingga disuatu petang, di saat saya sedang memasak (maklum, masak-masak sendiri :P ), tiba-tiba saya membaca Surah Yaa Siiin sambil menggoreng ikan. Padahal, kata orang tua, ‘pamali’ menyanyi di depan dapur. Katanya, nanti akan menikah dengan kakek-kakek. Sebagai gadis belia (yang tentunya juga tidak paham agama :”> ) sudah pasti tidak mau menikah dengan kakek-kakek. Maka, saya percaya. Ternyata, itu hanya helah orang tua, jangan sampai air liur kita terpercik di makanan. Karena kita tidak cenderung mendengar nasehat orang tua kalau berbicara tentang yang baik-baik saja. Jadi, kita sendiri yang mengajari orang lain yang membohongi kita. Tidakkah demikian? :)

Saya terkejut bukan alang-kepalang. Kok bisa-bisanya saya menghapal Surah Yaa Siiin, padahal, saya tidak pernah berusaha menghapalnya. Walau di tarbiyah sekolah dulu, setiap minggu kita harus menghapal ayat-ayat Al-Qur’an. Saya yang dulunya yang kadang menyanyi di kamar mandi (tentunya dengan nyanyian yang campur-campur alias gado-gado. Karena percaya atau tidak, tidak ada satu pun nyanyian yang saya hapal sampai titik terakhir :P ). Nyanyian itu berubah jadi Surah Yaa Siiin. Ya, saya mengaji sambil mandi.

Banyak sekali peruabahan dalam diriku setelah jatuh cinta pada Al-Qur’an. Saya suka tersenyum setiap hari. Kalau ada orang yang mengenakan saya, sebisa mungkin saya berpikiran positif. Sebisa mungkin, saya mengekang amarah saya. Saya menjadi lebih sabar (narsis full mode on :P ).

Sehingga menjelang ke Singapura kemarin, ada hal yang amat mengundang emosi amarah saya. Namun, alhamdulillah! Emosi amarah itu berhasil saya kalahkan (kayak peperangan saja :D ). Anda ingin tahu apa obatnya? Tentu saja Surah Yaa Siiin. Ya, saya membaca Surah Yaa Siiin berulang-ulang di dalam hati, waktu itu. Sekali lagi, alhamdulillah, saya bisa tersenyum dengan hati yang lapang di dalam pesawat.

Dulu, saya juga pernah dihantui rasa khawatir yang luar biasa. Kekhawatiran itu disebabkan oleh adanya keputusan yang saya harus nanti-nanti dari seseorang. Kalau keputusan itu tidak berpihak kepada saya, matilah saya. Secepat kilat, saya meraih Surah Yaa Siiin dan membacanya sebanyak tiga kali. Yang tentunya juga disertai dengan air mata. Alhamdulillah, beberapa hari, keputusan itu, aku terima. Sekali lagi, alhamdulillah, keputusan itu berpihak kepadaku.

Perubahan yang saya juga rasakan adalah saya jarang sakit-sakitan. Karena dulu, saya ini fisiknya agak lemah. Tetapi, subahallah! Magh saya boleh dikatakan tidak pernah kambuh lagi. Saya tidak pernah sakit kepala. Demam pun, jarang. Dan, Insya Allah, hidayah pasti bertambah. Sekali lagi, ini adalah kisah nyata dalam hidup saya. Saya sudah merasakannya, betapa dahsyatnya kekuatan Al-Qur’an.

Jadi, kalau Anda tergolong orang yang suka marah-marah atau cepat tersinggung, perbanyak saja membaca Surah Yaa Siiin! Insya Allah, Anda akan menjadi orang yang lebih sabar.Atau, kalau Anda tergolong orang yang penyakitan, cintai saja Al-Qur’an! Insya Allah, hidayah akan berpihak kepada Anda. Tidak percaya? Praktekkan saja!

Bukankah aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syetan? Sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu (Yaa Siiin, ayat 60)

Sesungguhnya syetan itu telah menyesatkan sebagian besar di antaramu. Maka, apakah kamu tidak memikirkan? (Yaa Siiin, ayat 62)

Inilaha Jahannam (neraka) yang dahulu kamu diancamnya (dengannya) (Yaa Siiin, ayat 63)

Masuklah ke dalamnya pada hari disebabkan kamu dulu mengingkarinya! (Yaa Siiin, ayat 64)

…. Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitan yang memberi penerangan (Yaa Siiin, ayat 69)

Mari, mencintai Al-Qur’an! Tempatnya UU yang hakiki. Obat segala macam penyakit dalam diri Anda dengan Al-Qur’an! Sifat amarah adalah salah satu hasutan syetan. Sesungguhnya, musuh terbesar kita adalah syetan-syetan yang ada dalam diri kita sendiri.

Sekedar hanya ingin berbagi tentang Al-Qur’an.
*Lagi agak kecewa karena setelah menelpon kakak saya, beliau belum menemukan bukunya Ustadz Udo Yamin Efendi. :(

alina @ 11:15 pm
Filed under: Cinta
Di Rumah Sakit

Posted on Saturday 26 January 2008

Di sini, di rumah sakit ini,
kau pernah meminta perpisahan.
“Jangan pernah mencintaiku!
Tidakkah kau takut aku meninggalkanmu
karena kanker di dadaku?” katamu padaku

Di sini pula, di rumah sakit ini juga.
Aku pernah meminta perpisahan.
“Aku tidak takut atas kepergianmu.
Yang kutakutkan jika aku yang meninggalkanmu,” kataku
saat ada berita kesembuhan kankermu.

Kini, di rumah sakit ini lagi.
Aku terbaring mengenang kenangan di sini.
Disaat aku dan engkau meminta perpisahan.
Diri ini mengharap engkau kembali lagi, di sini.
Walau aku tahu kau telah pergi, bukan untuk kembali.

Biarkanlah aku di sini, tetap di sini,
di rumah sakit ini, untuk mencintaimu,
mencintaimu dan tetap mencintaimu
di sini, di rumah sakit ini, di dalam puisi ini.
Dan, bukan hanya saat ini.

13/01/2008

 

*hehehe… ternyata benar kata orang kalau menulis itu bisa membuat kita jadi ‘gila’. Ya, saya selalu ingin tertawa kalau membaca tulisan-tulisanku. Kok bisa-bisanya saya nulis seperti ini. modeon. :P

alina @ 2:06 am
Filed under: Puisi
Selamat Hari Ibu, Ibu!

Posted on Friday 25 January 2008

note: Sebenarnya, tema tulisan ini sudah basi atau terlambat. Tetapi, tidak ada kata terlambat untuk membacanya, bukan? (tentu saja bagi yang sudi. :) …). Dan, jangan khawatir kok! Tulisan ini aku buat menjelang Hari Ibu. Tepatnya, sesudah sholat subuh. :)

———————————————————————————————————————————————-

     Ibu!
     Bu, hari ini adalah Hari Ibu sedunia. Di sini, orang-orang amat gembira memperingatinya. Mereka memberi hadiah dan memeluk ibunya. Ada juga yang mengajak ibunya pergi jalan-jalan atau shopping di mall. Ada juga yang membawa ibunya ke restoran makan-makan sambil bergurau. Mereka sungguh bahagia kelihatannya, Bu!
     Selamat Hari Ibu, Ibu!
     Engkau adalah ibu sekaligus malaikat buat kami, anak-anakmu. Engkau mengandungkan kami dalam masa sembilan bulan. Waktu yang cukup lama membawa kami ke mana kakimu melangkah. Engkau tidak mengeluh berapa beratnya. Engkau tidak memaki-maki ketika kami menendang-nendang dalam perutmu. Engkau malah mengelus-elus perutmu dengan belaian tangan kasih sayang dan sesekali berkata seperti ini sambil tersenyum, “Cup! Cup! Cup! Jangan nakal, Nak! Semoga engkau tumbuh menjadi anak yang sholeh-sholeha, kelak!”
     Ya, Tuhan! Begitu mulianya, Ibuku!
     Ibu, pernahkah kau merasa letih ketika kami sudah lahir ke dunia ini? Engkau harus menyusui kami dengan air susumu sendiri. Ya, kami memakan dan meminum sesuatu yang menjadi milik tubuhmu. Ketika kami menangis, sekali lagi kau menyuguhkan ASI-mu, walaupun putingnya sudah perih. Yang ada di pikiranmu hanya untuk membuat kami berhenti menangis. Walau nyamuk menggigiti tubuhmu, kau menahan gigitan itu. Kau tidak bergeming lantaran takut kami akan terjaga dan menangis lagi. Ibu, berapa banyakkah darahmu yang telah kau sumbangkan secara percuma kepada nyamuk-nyamuk yang tak mengenal belas kasihan itu? Tidakkah kau pernah berpikir kalau bisa saja nyamuk itu menjadi perantara untuk melayangkan nyawamu? Adakah kau sama sekali tidak memikirkan itu lagi hanya karena kami, anakmu?
     Ibu, selamat Hari Ibu!
     Tidakkah kau ingin berhenti sejenak mengasuh kami? Pura-pura tidak memperhatikan kami. Adakah telingamu tidak penuh untuk mendengar tangisan dan segala permintaan kami? Adakah tangan-tanganmu tidak merasa letih untuk menyuapi, memandikan, memakaikan kami bedak, baju dan celana? Matamu senantiasa memperhatikan ke mana kami merangkak atau melangkah sambil berlari terbirit-birit. Kau pun ikut menjadi anak kecil untuk menemani anakmu bermain. Kau melantunkan kata-kata yang tidak jelas agar kami tergelitik dan tertawa. Kemudian, kau pun ikut tertawa pula. Kau membentuk wajahmu seperti kera atau babi agar kami tersenyum dan kau pun ikut tersenyum juga. Ah, Ibu! Pernahkah kau berpikir, kalau hal itu, amat konyol, Ibu!
     Selamat Hari Ibu ya, Bu!
     Kini, anakmu sudah remaja. Sudah pandai berjalan sendiri. Tangannya sudah mahir melakukan sesuatu, termasuk apa yang telah kau lakukan untuknya, dulu. Bibirnya sudah fasih berbicara.
Kini, kau pula berharap agar anakmu itu bisa membantumu di dapur. Sesekali mencuci piring atau menyapu. Tetapi, anak remajamu malah mengacuhkanmu, Ibu! Mereka hanya sibuk dengan urusannya sendiri. Sibuk dengan sekolahnya. Sibuk dengan teman-temannya. Sibuk dengan kegiatan-kegiatannya yang katany lebih penting dari semua yang ibu harapkan itu. Pokoknya, sibuk, Ibu! Melebihi sibuknya seorang President.
     Lalu, mengapa engkau tidak bersuara? Engkau tidak membentak atau memarahi kami. Tetapi, malah ibu menyediakan kami makanan di meja makan. Walaupun, engkau masih ingin tidur, kau paksakan diri bangun pagi untuk membuatkan kami sarapan. Bahkan, kau mencucikan juga baju-baju kotor di kamar. Dimalam hari, engkau memperhatikan keadaan kami. Engkau bertanya, adakah kami letih dengan kesibukan itu? Tetapi, kami, anak-anakmu tidak pernah bertanya sebaliknya padamu. Ibu, tidakkah kau bosan dengan semua itu?
     Sekali lagi, selamat Hari Ibu, Ibu!
     Waktu telah membawa ayunan langkah kaki anakmu pada usia dewasa. Kami sudah bisa mandiri. Sudah bekerja dengan pakaian yang indah, cantik, seragam berdasi dengan penghasilan yang cukup lumayan . Dalam beberapa bulan bisa membeli sesuatu yang mahal. Sesuatu yang diidam-idamkan selama ini. Pernahkah kami terpikirkan untuk membantu beban di pundakmu? Pernahkah kami terpikir untuk membantu membiayai biaya-biaya sekolah adik atau perbelanjaan rumah? Pernahkah, Ibu?
     Kami hanya sibuk memikirkan diri-sendiri. Menabung sebanyak-banyaknya, agar juga bisa berkeluarga. Ketika engkau terjepit dengan keadaan, lantas meminta bantuan dari kami, malah kami memberi jawaban yang sinis, “Ini hasil jerih payahku, Ibu! Ibu tidak berhak ikut campur!”
      Kami pura-pura tidak tahu kalau saat itu, ibu cepat-cepat memalingkan muka untuk menyembunyikan air mata yang sudah mengambang. Lalu, beberapa menit kemudian, engkau melakonkan lagi posisimu sebagai ibu yang penuh kasih sayang. Engkau berpura-pura, seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa.
      Seperti itukah anak yang engkau harapkan? Anak yang tidak pandai memandang ke belakang. Anak yang tidak tahu arti air mata seorang ibu. Tetapi, kenapa engkau tidak mengingatkan kami kalau apa yang kami dapatkan hari ini adalah hasil dari ibu juga? Kenapa ibu tidak meminta balasan tentang itu? Tidakkah kau pernah sama-sekali menyesal, mati-matian membiayai sekolah kami tinggi-tinggi? Hingga bisa bekerja dengan pangkat yang cukup lumayan gajinya. Adakah karena kasih sayang seorang ibu tidak meminta balasan atau tidak mengharapkan imbalan? Ah, Ibu! Mengapa engkau begitu polos, lugu dan naif?
      Ibu, selamat Hari IBu ya!
      Kini, waktu sudah memakan usiamu. Rambutmu sudah beruban. Gigimu pun satu-satu menghilang.Matamu sudah rabun. Telingamu sudah mulai bermasalah. Punggungmu sudah bongkok. Sudah saatnya anak-anakmu menjagamu dengan baik. Megapa engkau masih sudi tinggal di gubuk reyotmu itu? Tidakkah kau pernah merasa tidak sanggup lagi menjaga dirimu sendiri? Dengan badan tuamu itu, kau masih rajin mengerjakan pekerjaanmu, dulu. Memasak, mencuci dan pekerjaan-pekerjaan lainnya yang memakan tenaga cukup banyak.
      Tidakkah kau berkeinginan untuk tinggal bersama dengan anakmu-anakmu yang mempunyai rumah bertingkat itu? Segala pekerjaan disiapkan oleh pembantu. Hanya makan, minum, tidur dan menonton TV pekerjaan penghuninya setiap hari. Menu hidangan yang mewah-mewah. Kamar-kamar ber-AC, spring bed yang empuk yang cocok untuk tubuh tuamu, kamar mandi yang canggih, serta perlengkapan-perlengkapan lainnya. Ibu, tidakkah kau memimpikan hal-hal semacam itu diusia tuamu ini?
      “Berat rasanya meninggalkan rumah. Karena, di sinilah kenanganku bersama dengan anak-anakku terjalin indah. Tempat kami bergurau dan tertawa bersama. Tempat kami merasakan arti kasih sayang. Tempat kami menyadari kalau kami saling membutuhkan. Aku ingin mengabadikan kenangan itu di sini,” begitu biasanya engkau menjawab pertanyaan tetanggamu.
      Padahal, jauh di lubuk hatimu, engkau menangis. Sebenarnya, anak-anakmu tidak pernah mempelawamu ke rumah bak villa itu. Bahkan, menjengukmu pun sama sekali, tidak. Malah, anak-anakmu hendak memasukkanmu ke tempat Orang Tua Jompo. Katanya, di sana penjagaan lebih baik dan terjamin. Padahal, itu hanyalah alasan untuk menghindari gunjingan tetangga.
       Selamat Hari Ibu, Ibu!
      Disaat-saat menyakitkan itu, di bibirmu yang mulai kering dan keriput, masih saja selalu terukir senyuman. Siapa pun yang melihatnya akan beranggapan kalau ibu sangat bahagia. Bahkan, do’a-do’amu yang tulus dan ikhlas masih senantiasa kau panjatkan untuk anak-anakmu. Anak yang sama sekali tidak memperdulikan dirimu yang sudah rentah itu. Anak yang hanya sibuk men-Tuhankan istri atau suaminya.
        Ah, Ibu! Adakah benar kalau engkau adalah manusia biasa? Tidakkah kau merasa bahwa engkau adalah malaikat?
      Selamat Hari Ibu, Ibu!
     Kini, namamu tinggal nama dan batu nisan. Engkau sudah berehat panjang di sana. Melepaskan segala lelah dalam mencurahkan kasih sayang buat anak-anakmu. Kini, engkau sudah bisa tidur sepuas-puasnya. Namun, dimalam hari, sayup-sayup terdengar do’a dari dalam kuburmu yang rumputnya tak pernah dijamah, yang tanahnya tidak pernah tersiram air dari tangan-tangan anakmu.
      “Ya, Allah! Semoga engkau mengampuni dosa anak-anakku dalam perjalanan menuju surga!”
      Ya, do’a itu akan terdengar setiap malam di telinga penjaga kuburan. Seperti namamu yang ada di mana-mana. Di pinggir jalan, di toko, di mall, atau di mana saja. Kecuali di ujung bibir anak-anak yang sudah lama tak mengenalmu. Walaupun itu hanya, lewat do’a dan ucapan selamat.
      Selamat Hari Ibu!

22 Desember 2007

—————————————————————————————————————————–

ps: Terinspirasi ketika saya hampir menitikkan air mata saat melihat seorang pengemis tua (perempuan) yang dibentak-bentak oleh seorang lelaki berdasi. :( Dan, tiba-tiba saya sangat merindukan ibuku. :(

alina @ 3:57 am
Filed under: Cinta
Jawaban Pertanyaan Ibu

Posted on Tuesday 22 January 2008

catatan: Buat puisi yg tidak karuan untuk menyelingi tulisan yang panjang. Karena puisi itu, bisa juga berfungsi sebagai nyanyian. :D

—————————————————————————————————————————-

Jawaban Petanyaan Ibu

Hari ini, di telepon, ibu bertanya:
“Setiap menelpon, kau selalu tersenyum dan tertawa.
Adakah kau bahagia di sana? Tidakkah kau rindu
pada ayah, ibu, kakak dan adikmu? Tidakkah kau ingat kamarmu,
tempatmu membaca buku dan menulis puisi
dengan sebuah sumbu pelita?”

Kujawab pertanyaan ibu dengan tawa lepas.
Lalu, aku bercerita: “Ibu, aku selalu mendengar
kalau Tuhan akan mencintaiku kala aku tersenyum
dan tertawa. Walau badanku kadang meriang karena kehujanan.
Katanya, aku cantik, Ibu!”

Seperti biasa, ibu bertanya ini dan itu,
“Pulanglah, Anakku! Benarkah kau bertambah cantik?
Adakah kulitmu sudah putih? Masihkah kau suka memelihara
rambut panjang? Sudahkah kau memotong kukumu?
Apa kata dokter tentang matamu yang buta
dan kakimu yang lumpuh itu? Tangan-tanganmu masih pendek
dan bibirmu masih bebas lipstik kan, Nak?”

Kujawab pertanyaan ibu dengan senyuman
yang disertai tangisan. “Ibu, Tuhan memelukku
kala aku bertandang ke rumah-Nya. Bahkan,
berbisik di telingaku: Tidakkah kau ingin bermalam di pelukan-Ku?”

Begitulah, Ibu!
Aku selalu tersenyum dan tertawa bahagia.
Walau aku selalu merindu dan tidak lupa.

nb: hehehe! :P

alina @ 5:22 am
Filed under: Puisi
Surat Cinta dari Tuhan

Posted on Thursday 17 January 2008

catatan kecil (1) : Bagi yang sudi melirik tulisan saya, saya harap sebelum membacanya, tarik napas dalam-dalam! Hembuskan napas pelan-pelan! Tutuplah mata Anda! Dan, kosongkan pikiran Anda sejenak! Buanglah jauh-jauh prasangka buruk di hati Anda! Tanamkan positive thinking! Oke? Ingat, kita sudah mendapat pelajaran di kelas kalau ‘Cinta Itu Universal’ yang dibawakan oleh Ustadz Udo. Ingat, kan? Oke! Selamat membaca! Dan, silahkan dikomentari! Tunggu! Anda sudah menepati peraturannya, bukan? ^_^

—————————————————————————————————————————-

      Dear, Kekasihku!

     Apa kabar dihari ini? Sudah lama kita tak bersua di sana. Adakah kau sudah merindukan aku? Pasti. Seperti aku merindukanmu di sini.

      Sabarlah, Kasih!
      Besok aku akan pulang dari negeri ini. Pulang ke tempatku lebih banyak bermalam. Tahukah kau, Kasih? Aku begitu capek sekali. Letih bercampur senang. Aku tahu, saat aku tiba nanti, kau pasti meminta cerita dariku. Untuk itu, kutuliskan cerita lewat surat jika kita bertemu di tempatku pulang nanti. Aku tak punya tenaga untuk bercerita, Aku ingin tidur jika tiba di rumah. Melepaskan diri dari segala lelah dari perjalananku.Maka, kuminta padamu, Kasih. Janganlah bertanya apa-apa! Baca saja surat pertemuan ini! Oke?

      Sebelumnya, maafkanlah saya yang tidak mengirim pesan padamu, kalau hari itu saya akan bertolak ke negeri seberang. Kekasihmu ini amat sibuk menjelang keberangkatan itu. Tetapi, bukankah kita pernah berjanji? Kalau suatu hari kelak saya ke suatu tempat, akan kumasukkan kau ke dalam kantongku dan membawa kau ke mana kakiku melangkah. Dan, saat itu kau juga berkata, engkau juga akan menjadikanku selendang untuk menghangatkan lehermu dan membawaku ke mana saja kakimu menuju. Adakah kau masih ingat, Kasih?

     Dengan demikian, aku percaya kau selalu bersamaku. Jadi, anggap saja cerita ini sebagai cerita ulangan bagimu.
     Aku tahu, jika aku berkelana ke negeri orang, kau selalu mengingatkanku banyak hal. Terutama yang berkaitan dengan kesehatanku. Aku masih ingat, ketika kau memesanku agar jangan lupa sarapan. Karena kau tahu, gastric amat menyebalkan. Jangan khawatir, Kasih! Aku makan empat kali sehari. Pagi, siang, sore dan malam. Semua orang memperhatikan aku layaknya seorang anak kecil yang belum bisa menyuapi diri sendiri.

      Aku juga tidak lupa untuk menuruti nasehatmu, “Minumlah air putih banyak-banyak! Karena ia baik untuk kesehatan dan kelembaban kulitmu. Juga, mencegah datangnya panas dalam. Perbanyaklah makan buah-buahan! Karena ia bagus untuk seorang wanita. Apalagi gadis seumuranmu.”

       Terimakasih, Kekasihku! Engkau begitu perhatian!
      Adakah kau ingin bertanya, makanan apa yang lebih banyak aku makan di sini? Aku yakin, kau pasti menanyakan hal itu. Karena kau tahu, jika melakukan perjalanan seperti ini, kebanyakan menu yang dihidangkan adalah menu dari daging ayam, kambing atau sapi. Sedangkan, kau tahu kalau aku tidak doyan makan-makanan seperti itu. Makan, sih makan. Tetapi, tidak banyak. Mungkin, karena hal itu, kau tak pernah memintaku untuk memasak sesuatu dari daging seperti itu. Setiap hari, kau meminta menu dari sayur dan ikan dariku. Kau tidak pernah cerewet. Walaupun, kau pernah bercanda di meja makan.
     “Sesekali makanlah banyak-banyak daging, Lin! Agar badanmu gemuk sedikit!”
     ”Boleh, Kekasihku! Kalau kau meminta, akan aku masakkan untukmu. Bukan berarti saya tidak doyan makan-makanan yang berlemak, lantas tidak mau memasakkanya untukmu. Tidak, Kasih! Bukankah kau selalu menasehatiku agar aku belajar untuk tidak egois? Apalagi, aku bisa memakannya. Walaupun, tidak seberapa. Bagaimana?Adakah besok malam kau mau aku masakkan menu dari daging ayam, sapi atau kambing?” kataku panjang lebar dengan kalimat yang tidak nyambung.
      “Tidak, Kasih! Aku hanya ingin mengatakan kalau seorang gadis gemuk akan terasa comel kelihatannya. Banyak orang yang ingin mencubit pipinya.”
     “Aku bukan baby lagi. Jika ada orang yang berani mencubit pipi kekasihmu ini, selain keluarga dekat atau teman dekat perempuan, tinju dari jemariku ini akan membalas cubitan di pipinya juga.”

       Seperti biasa, engkau tertawa terbahak-bahak. Dan, aku pun ikut tertawa. Ya, itulah kau. Kau amat memahamiku. Kau tahu kalau sekarang aku suka tertawa. Walaupun kamu tidak pernah mendengarku tertawa terbahak-bahak. Seperti kata sahabatmu pada suatu hari, “Lin, bagaimana sih tertawa kamu yang sebenarnya?”
      “Ha? Masa sih kamu tidak tahu? Bukankah aku tertawa setiap hari? Bahkan, boleh dikatakan setiap menit, aku pasti tertawa!” kataku menjelaskan pada sahabatmu itu.”
     “Itu bukan tertawa terbahak-bahak! Tetapi, tawa biasa atau senyum. Yang kutanyakan adalah tawa bahak-bahakmu.”
Sebenarnya, jauh dari relung hatiku, aku juga bertanya, benarkah aku tidak pernah tertawa terbahak-bahak? (Rasulullah bersabda dalam hadist kalau tertawa itu boleh-boleh saja. Asalkan jangan berlebihan. Yaitu, memperlihatkan tenggorokan.). Alhamdulillah kalau sahabatmu itu benar. Aku bertanya padamu, Kasih. Benarkah? Ah, Kasih! Kau malah memperkuat pendapat sahabatmu itu dengan menjawab pertanyaan kata hatiku dengan kata, ‘Ya!’

       Baiklah, aku terima pendapatmu. Karena aku tahu, kau lebih memahamiku. Melebihi pemahamanku sendiri. Kenapa aku berkata demikian? Aku masih ingat, ketika kau bertanya disuatu pagi, “Kau punya masalah?”
      “Gak!” jawabku dengan senyuman.
      “Kau pasti membohongiku. Aku tahu, pagi ini kau tersenyum. Tetapi, senyumanmu itu bukan lahir dari hatimu. Iya, kan?”
      “Kau ini, ada-ada saja!”
      “Jangan selalu membohongi diri sendiri, Sayang! Tidak baik buat kesehatan jiwamu. Aku tahu, kau ingin menghibur diri dengan senyuman dan tawa. Aku juga tahu, telah banyak jalanan berduri yang kau lalui, namun kau tidak pernah merintih. Malah, kau membilas darah-darah dari luka kakimu itu dengan dengan senyuman, dengan tawa. Karena sifatmu itulah, aku amat mencintaimu!” katamu panjang lebar.

       Akhirnya, ku tak kuasa lagi menahan air mataku. Kuberlari dalam pelukanmu. Aku menangis sepuas-puasnya. Kau pun memelukku erat-erat. Dan, tanpa aku minta, tanganmu membelai rambutku yang panjang itu.
      “Menangislah!” kata-kata itu keluar beberapa kali dari bibirmu. “Kau tidak perlu bercerita! Aku tahu semuanya, Kasih! Aku tahu senyumanmu hilang karena sahabatku. Sahabat yang rela menerima percikan lumpur dari jalanan. Sahabat yang belum mampu menolak noda hitam dari kotoran. Sahabat yang terlalu cepat menyimpulkan sesuatu. Sahabat yang belum beberapa detik mengenalmu, sudah berani berpikir yang bukan-bukan terhadap dirimu. Kamu bersedih karena hal ini, kan?” tanyamu dengan lemah lembut di telingaku.
        Aku tak menjawab pertanyaanmu. Aku masih di alam keisakanku.
      “Janganlah bersedih! Hapus air matamu! Kau tidak pantas bersedih karena hal sepele seperti itu. Percayalah! Itu adalah tabungan terbesar untuk bertemu dengan Kekasih Abadimu. Bukankah fitnah lebih kejam dari membunuh? Adakah kau sudah lupa apa kata ayahmu? Bersyukurlah jika ada orang yang melempar kata kepadamu tentang sesuatu yang bukan sama sekali milikmu. Karena itu adalah induknya amal. Apakah kau sudah lupa kalau orang memberi kita sesuatu yang baik, anggaplah itu suatu rezeki. Dan, apabila orang memarahi, membenci atau semacamnya kepadamu, itu adalah hak mereka. Sudah! Positive thinking sajalah, Sayang! Bukankah yang lebih tahu dirimu adalah Dia, aku dan kamu? Biarkan saja mereka berpikiran dengan pikiran mereka masing-masing. Biarkan saja mulut mereka berbusa bercerita tentang kamu. Biarkanlah! Berpura-puralah jadi gadis buta dan tuli! Biarkanlah! Asalkan kamu tahu dan yakin kalau langkah kakimu masih di jalan yang tepat. Biarkan mereka memberi angka-angka pada jalan hidupmu! Terima angka apa saja yang ia suguhkan padamu! 8,7,6,5, atau 4 sekalipun. Terima dengan lapang dada!”
       “Kenapa aku harus berlapang dada? Bukankah itu namanya tidak adil?” kataku membantah
       “Bukan tidak adil, Sayang! Tetapi, itulah kebodohan yang mereka tunjukkan! Bukankah waktu ulangan hidupmu belum usai? Jika pun waktu itu tiba, bukankah yang berhak menilaimu hanyalah Dia? Kekasih Abadimu. Dunia ini penuh mulut. Jika tidak ada mulut yang terbuka melafaz kata, bukan kehidupan namanya. Tinggal kita yang harus memilah-milah, mana yang harus kita dengar, mana tidak. Mana yang harus kita simpan dalam hati, mana tidak. Buat apa dijaga dan dipelihara kalau kata-kata itu hanya akan merusak diri-sendiri? Bukankah begitu, Kekasihku?

      Sekali lagi kau melanjutkan kalimatmu, saat kau melihat kebingungan di mataku.
      “Dekati orang itu! Berikan senyuman! Sapalah dia dengan ramah! Berikan dia perhatian, sebagaimana engkau memperhatikan semua orang yang kau kenali! Dan, yang lebih penting, minta maaflah pada dia!”
      “Maaf?!” tanyaku kaget
      “Iya. Bukankah kau telah memarahinya dalam hati? Bukankah kau telah bertengkar dengan dia? Bahkan, kau ingin memutuskan silahturahmi. Minta maaflah karena hal itu! Bukankah baru-baru ini, kau juga telah melukai seseorang tanpa kau sengaja. Lalu, kau meminta maaf dan menjauh karena perasaan bersalah masih menghantuimu. Tetapi, orang itu malah mendekatimu. Bahkan, melakonkan sesuatu yang tidak biasa dia lakukan dan kau menangis terharu karenanya. Jadilah sepertinya!” kau berhenti sejenak. Mungkin, kau memberiku waktu untuk mencerna kata-katamu barusan.
        “Kini, saya pesankan kepadamu. Belajarlah bijak berbicara! Aku tahu, kamu gadis yang polos dan lugu. Aku tahu, itu. Karenanyalah, aku amat mencintaimu. Cuma, terkadang ada sesuatu yang tidak membutuhkan kepolosan dan keluguan. Sekali lagi, belajarlah bijak berbicara! Agar orang lain tidak salah paham, tidak tersinggung atau merasa jengkel padamu. Agar orang lain tidak menyalah artikan kata-katamu. Sudah! Lupakanlah hal ini! Nikmati hari-harimu!”

       Begitulah nasehatmu setiap kali menemukan keganjilan dalam diriku. Ya, kau adalah type kekasih yang amat kukagumi. Kau selalu membimbingku atas keganjilan itu. Kau tidak memilih diam atau menjauh. Kau tetap setia di sisiku walau dalam keadaan apa jua. Karena kamu tahu, pengetahuanku dalam segala masih amat minim. Kamu juga tahu, aku amat membutuhkan orang yang pemikirannya lebih OK dariku. Orang yang bisa menuntunku.

       Terimakasih, Kekasihku!
       Karena kamu, aku mengenal tawa. Tawa saat pertama kali berjumpa.Ya, yang aku tahu saat itu, aku begitu bahagia mengenalmu. Namun, kau memberiku tangis saat aku pertamakali merasakan sentuhan tangan konkrit dari seorang ibu dan ayah. Tangis yang akan menjadi sejarah sepanjang masa.

      Adakah kau tahu, Sayang?
      Di sini, aku bagaikan orang gila. Tersenyum sendiri, tertawa sendiri. Ya, kau telah memberiku kehidupan aneh dalam hidupku. Sehingga seorang temanku bertanya, “Dari tadi kamu tersenyum-senyum sendiri. Bahkan, tertawa tanpa sebab. Ada apakah?”
       “Orang tersenyum atau tertawa, pasti ada sebabnya, Kawan!” kataku dengan senyuman yang bertambah melebar.
       “Kalau begitu, ceritakanlah sebab senyum dan tawamu itu! Bukankah indah kalau rasa bahagia itu dibagikan juga kepada orang lain?”
       Tanpa kehilangan senyuman, kulontarkan sebuah kalimat dengan agak malu-malu, “Aku mengingat dan merindukan kekasihku.”
      “Pasti kekasihmu, hebat. Sampai-sampai membuatmu seperti ini.”
      “Ya, kekasihku memang hebat,” kataku dengan pipi kemerah-merahan.
      “Kalau boleh tahu, siapa nama kekasihmu itu?”

       Tiba-tiba aku terdiam mendengar pertanyaan temanku itu.
       “Kenapa? Tidak boleh ya?”
       Kutarik napas dalam-dalam, dan menghenghembuskannya pelan-pelan.
       “Betulkah kau ingin mengetahui nama kekasihku?” tanyaku pada temanku yang wajahnya masih kebingungan itu. Dia hanya mengangguk.
      “Baiklah! Tapi, kamu harus janji jangan tertawa ya!”
      “Ya, iyalah! Nama itu relatif!”
      “Hhhmm… nama kekasihku adalah…. Kehidupan!”

        Hahaha! Hahaha! Hahaha! Ada-ada saja!
        “Dengarlah, Kasih! Dengarlah tawa itu! Dengan mudahnya mereka berpaling dari kata-katanya. Kau juga, Kasih! Aku pernah menyuruhmu untuk mengganti namamu yang hodoh dan basi itu!”
       “Nama seperti apa yang kau inginkan?” tanyamu waktu itu.
       “Surga!” jawabku mantap.
       “Terimakasih, Kekasihku! Kau telah menyebut nama indahku!”
       “Namamu?”
       “Ya. Akulah Kehidupan! Kekasih Sejatimu. Kamu tahu, jika di akherat kelak, aku akan tetap setia di sisimu. Jika kau mengenal dan mencintai Kekasih Abadimu, aku akan menemanimu di surga. Kita akan menjalin kasih yang indah di sana. Dan, jika kau tidak mengenal dan mencintai Kekasih Abadimu, aku juga tetap setia di sisimu. Tetapi, di alam lain, yaitu neraka. Tetap sebagi kekasihmu. Namun, aku mohon maaf karena di sana yang bisa kita rasakan cuma tangis kepedihan yang tiada taranya. Disaat itulah, kau akan membenciku. Kau tak menginginkanku lagi. Namun, apalah dayaku? Aku hanyalah Kekasih Sejati, bukan Kekasih Abadi!”
      “Kekasih Abadi?”
      “Iya, Kekasih Abadi!”
      “Apa bedanya ‘abadi’ dan ’sejati’?” tanyaku tambah bingung.
      “Kekasihku, sebenarnya ada 3 jenis kekasih. Kekasih Abadi, Kekasih Sejati dan Kekasih Setia. Kau ingin tahu perbedaanya?”
      Aku diam saja. Aku betul-betul tidak mengerti apa yang kau katakan saat itu.

      “Kekasih Abadi adalah kekasih yang mencipta aku, Kekasih Sejatimu. Juga, yang menghadirkan kamu dan Kekasih Setiamu, kelak. Kekasih Abadi cintanya tidak akan pernah berubah padamu. Ketika masih di alam rahim sampai di akherat, kelak, Dia tetap menyayangi dan mencintaimu tanpa ada batasnya. Sedangkan, aku hanyalah Kekasih Sejati. Kekasih yang menemanimu dari alam rahim sampai akherat. Namun, di akherat kelak, aku mempunyai dua tempat bernaung. Surga dan Neraka. Itulah yang membedakan ‘Abadi’ dan ‘Sejati’. Lalu, Kekasih Setia, hanyalah kekasih yang bisa menemanimu di dunia fana ini. Kekasih yang berusaha mencintaimu dengan segala keterbatasannya…” katamu panjang lebar.

       Berhari-hari aku memikirkan kata-katamu itu. Hingga suatu malam, ketika kita sedang menonton televisi sambil makan kerupuk. Kau membuyarkan lamunanku yang tidak mengikuti alur jalan cerita di TV itu.
       “Kau bersedih lagi, ya?” tanyamu sambil memandang mataku.
       “Tidaklah!” jawabku sambil memperbaiki badan di sofa.
       “Tetapi, wajahmu berkata seperti itu!”
       Aku diam saja. Tiba-tiba….
       “Ada surat untukmu.” katamu sambil menyodorkan sebuah amplop putih yang bersih.
       “Surat?”
       “Dari siapa?” tanyaku heran.
       “Buka sajalah! Nanti kau akan tahu kalau kau sudah membacanya!” katamu dengan senyuman manis.

         Perlahan aku membuka amplop putih itu. Secarik kertas putih dengan tulisan yang indah. Belum pernah aku melihat tulisan seindah, serapi dan secantik itu. Tidak ada sedikit pun coret-coret yang mengganggu penglihatan. Tidak ada tulisan kata yang salah. Tidak ada tinta yang tebal-tebal. Semua sejajar dalam bebaris kertas.
Perlahan, aku mulai membacanya.

       Dear, Kekasihku!

       Aku tidak akan bertanya, apa kabar? Karena Aku melihat apa yang kamu lakukan. Aku mendengar apa yang kamu katakan. Aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Aku tahu segalanya, Kasih!

      Saat ini, kau sedang gundah lagi, bukan? Gundah itu boleh-boleh saja. Karena ianya, kamu akan terlatih mencari solusi. Cuma, satu pesan-Ku, Kasih! Jangan pernah bertindak gegabah!

         Kau pasti heran dengan surat-Ku ini, bukan? Jangan heran, Sayang! Aku hanya ingin mengucapkan, “Selamat Ulang Tahun!” Bertambah lagi usiamu. Sudah berapa banyakkah tabunganmu? Adakah debitmu lebih besar dari kreditmu? Kau tidak perlu menyebutnya, Kasih! Sudah tercatat di buku diary-Ku, kini. Buku yang akan kau baca jika sudah di batas perhentian. Sudahkah kau mempersiapkan diri tentang hal itu? Sebelum kau menjawabnya, Aku ingin bernostalgia denganmu. Dimalam ulang tahunmu ini.

        Kau mau tahu, sejak kapan aku mulai mencintaimu? Apakah kau masih ingat ketika kau pertama kali menangis di depan-Ku? Kau mencurahkan segala isi hatimu dengan lancar. Kau mengatakan segalanya tanpa memberi-Ku kesempatan untuk berbicara. Aku tidak marah dengan kecerewetanmu itu, Sayang. Sama sekali, tidak. Karena kau berhak tentang hal itu.

       Adakah kau sudah menyadari kalau sejak itu, kau berubah menjadi gadis yang cengeng setiap kali berdialog dengan-Ku? Ah, Kekasihku! Aku amat mencintaimu karena tangismu. Tangismu itulah yang selalu membuat-Ku rindu padamu.

         Adakah kau tahu, ingin rasanya Aku memelukmu ketika kau melantunkan ayat-ayat suci-Ku. Ingin Aku menghapus air mata di pipimu itu. Air mata dari getaran-getaran jiwamu. Dan, mungkin kau tidak tahu, Kasih. Air matamu itu telah Ku-kumpulkan dalam ember-ember-Ku di sini. Air mata yang akan menjadi air mandi di kolam renang untuk kita berdua, kelak. Ketika bertemu untuk pertamakalinya. Air yang akan mencuci segala kotoran dan keringatmu setelah pulang dari bekerja. Air yang akan membuatmu jadi segar kembali layaknya bayi yang baru saja lahir.

        Adakah kau juga tahu, lantunan ayat-ayat suci-Ku dari bibirmu yang tidak berdandan itu telah Ku-rekam menjadi sebuah pita. Pita yang akan kita putar ketika makan malam di sebuah restoran. Restoran yang belum pernah kamu kunjungi. Yang di dalamnya berhiaskan bunga-bunga putih kesukaanmu.

         Adakah kau juga tahu, di taman bunga-Ku, kini, telah Ku-tanam sebuah bunga mawar merah. Bunga yang akan Ku-selipkan di rambutmu ketika engkau enggan berdandan. Ya, aku tahu kau tidak suka berdandan. Tetapi, percayalah! Bunga mawar itulah yang akan mencantikkan kamu layaknya putri raja.

        Ingin rasanya Aku memperlihatkan rasa bahagia-Ku ketika kau mengucapkan terimakasih pada-Ku. Kau menitikkan air mata saat Aku mengabulkan keinginanmu. Ah, kekasihku yang cengeng! Tetapi, yakinlah! Aku amat menyayangi kekasih yang selalu mengucapkan terimakasih yang tulus pada-Ku. Tidak kira apa jua yang Ku-beri. Dia selalu menerimanya dengan wajah berseri. Sekali lagi, Aku katakan, Aku amat mencintai kekasih seperti ini.

       Cuma, satu pesanku, Kasih! Jagalah kado lebaran yang telah Aku hadiahkan untukmu dibulan Ramadhan kali ini. Sekali lagi, jagalah, Kasih! Karena ia adalah salah satu kado yang berharga yang Aku berikan untukmu. Adakah kau tahu, kenapa Aku memberikan kado itu untukmu? Karena Aku mendengar hatimu berkata, “Alangkah indahnya jika ada orang yang tepat untuk menjadi tempatku untuk melafazkan gejolak jiwaku…”

        Ya, dia adalah orang yang tepat. Belajarlah dari dia! Mintalah tuntunan! Sesungguhnya dia sudah matang dalam mengharungi hidup ini. Aku tahu, kau amat menyayangi kado-Ku itu. Aku juga tahu, setiap kado yang Aku berikan, kau selalu menyayanginya dengan tulus. Cuma saja, kau masih terlalu polos dan lugu. Pintalah, agar dia tetap di sisimu! Agar dia tetap sudi membimbingmu layaknya orang tuamu.

       Oh, ya! Melalui surat-Ku ini juga, Aku sampaikan bahwa ada titipan rindu dari kedua orang tuamu. Mereka sudah amat merindukanmu. “Cepatlah pulang, anakku!” Ya, itulah do’a yang selalu mereka ulang-ulang ketika bertamu ke rumah-Ku. Tanpa Aku minta, mereka bercerita kalau mereka sudah rindu ceritamu. Sudah kengen dengan candamu. Sudah lama mereka tidak minum kopi buatanmu dipagi hari. Sudah lama ibumu memasak sendiri tanpamu. Sudah banyak uban di kepala mereka lantaran tidak ada yang mencabutkannya. Sudah lama mereka tidak merasakan pijitan dari tanganmu.

        Mereka juga berkata, kalau kamu ada titipan salam dari saudara(i)mu di kampung. Mereka sangat berharap agar kamu pulang menyambut bulan Ramadhan yang akan datang. Mereka rindu dengan nyanyianmu yang tidak merdu itu di mesjid. Mereka rindu dengan ceritamu yang terkadang tidak nyambung itu.

        Aku hanya berkata, “Ya, anak bungsu perempuanmu akan pulang tidak lama lagi. Dia juga sudah merindukanmu. Cuma saja, ada beberapa hal yang perlu dia selesaikan sebelum membeli tiket.

       Adakah kau tahu, apa yang mereka katakan, Kasih?
      “Lapukkanlah duri di jalanan yang akan dia lalui! Ingatkanlah membaca type-type kesehatan sebelum tidur! Sediakanlah tiket tiap hari untuknya! Karena dialah anak kesayangan dan cahaya rumah kami.” Itulah yang mereka katakan dengan senyuman yang disertai tangis. Karena tangisan tulusnya itulah yang membuat-Ku menjagamu dan menyayangimu.

        Baiklah, Kasih!
       Surat yang kutulis sudah terlalu panjang. Aku menulisnya karena sudah tidak bisa menahan kerinduan-Ku padamu. Satu pesan terakhir-Ku di surat ini. Rajin-rajinlah menabung! Agar tiket penerbangan yang kau beli bukan di kelas ekonomi, kelak, ketika penjemput-Ku datang untuk membawamu bertemu dengan-Ku.

        Sebagai penutup surat ini, aku akan menulis beberapa kalimat untukmu. “Harta bisa dicari dan boleh hilang. Kedudukan boleh didapat dan bisa dilucut. Wajah pasti akan memudar. Tetapi, ilmu tidak akan pernah sia-sia dan pudar.” Makan, tulislah di setiap sudut hatimu, “Aku terlahir sebagai manusia pembelajar!” Karena dengan ilmu yang dimiliki, manusia akan berarti. Dengan hati nurani yang bersih, manusia akan memiliki kekuatan yang melebihi kekuatan dari bagian badan mana pun.

         Oke, Kekasih-Ku!
         Terakhir, Aku ucapkan selamat padamu! Selamat atas pilihanmu! Pilihan yang tepat seumur hidupmu!

        “Selamat Ulang Tahun!”

Salam kangen selalu,

Kekasih Abadimu

         Kuakhiri membaca surat itu dengan air mata berlinang-linang. Kini, aku telah mengerti tiga kekasih yang telah kau katakan dulu. Terimakasih, Kekasih Sejatiku!

        Aduh, Kasih! Kenapa surat pertemuannya jadi berubah haluan? Kenapa yang kucerita hanya nostalgia? Bukan cerita perjalananku di sini. Tidak apalah, Kasih! Mungkin, karena aku amat merindukanmu. Jika kau sudah membacanya dan tak punya tempat untuk menyimpannya, buang saja di jalanan! Dan, jika ada orang yang kurang kerjaan, lantas memungut dan membacanya, betapa bahagaianya hatiku. Mereka akan mengetahui tentang ‘kekasihku’.

        Untuk menepati janjiku, akan kutuliskan sebuah cerita untukmu di lembar kertas yang lain. Cerita tentang perjalananku. Bacalah cerita itu! Bacalah cerita dariku! Takashimaya (zebra Cross) I am Falling In Love”
Itulah cerita yang kubawa. Sekamat membaca, Kekasih!

         Dan, sebelum aku istirahat, jika kau ke rumah sahabatmu itu, katakan padanya bahwa aku sangat berterimakasih karena telah memperkenalkan aku sebuah sekolah. Di mana aku bisa mengenal sifat-sifatmu, sahabat-sahabatmu, dan tempatku belajar tentang segala sesuatu tentangmu. Sekali lagi, ucapkanlah terimakasih padanya karena telah membawaku bersekolah pada Sekolah Kehidupan.

Salam kengen untukmu,

Kekasihmu

dari KL ke Singapore, dari november ke desember 2007

—————————————————————————————————————————-

catatan kecil (2): Hahaha! Entah mengapa kala membaca atau mengingat tulisanku ini, saya selalu pengen tertawa. Hahaha! (aneh! ^_^). Tulisan ini, aku persembahkan untuk SK. Karena semenjak mengenal SK, banyak sekali hal-hal baru yang aku dapatkan. Juga, sebagai pengingat, kalau tahun kali ini adalah tahun yang amat berharga dalam hidupku. Di mana, bisa aku mengenal banyak orang yang jauh tempatnya, punya banyak saudara di berbagai tempat, bahkan punya seseorang yang amat berharga dalam hidupku. Juga, sebagai pengingat kalau ternyata dunia ini sempit. Dengan mudah kita bisa dikenal oleh orang. Terimakasih, Tuhan! Engkau memberiku tahun yang amat berharga. Tahun yang penuh kejutan-kejutan unik untukku (pinjam miliknya Mbak Novi Sayang…:)…). Dan, juga untuk memberitahukan (khususnya untuk diriku sendiri) kalau Tuhan mmeberi kita tangisan (sebesar/sekecil apa pun itu), jangan pernah mengeluh. Karena bisa saja Dia merencanakan kebaghagiaan yang lebih besar dari itu. Dan, bersyukurlah jika Tuhan memberikan cobaan, karena percayalah, cobaan itu pertanda kalau Tuhan mencintai kita. Atau, kalau ada orang yang memaki-maki kita, tanpa dia tidak meneliti lebih dahulu, pura-pura sajalah tidak mendengar apa-apa! Lagipula, kita tahu mana yang benarnya. Iya, kan? Sekali lagi, mari kita bersyukur dan berpikiran positif!


-Maaf! Mungkin, ini adalah khayalan yang over. Tetapi, itulah saya. Suka mengotak-atik sesuatu. Kalau dulu, seorang Mbak pernah menulis “Surat Cinta Untuk Tuhan”, kali ini, saya membuatnya jadi terbalik. Tuhan mengirim surat cinta pada saya. Hahaha! Gak apa-apa, kan? Asal terbaliknya jadi positif. Hehehe…. SEMANGAT! Walau saya agak takut mosting tulisan saya ini, tetapi, ketika saya masuk kelas di hari pertama sesudah cuti panjang, sebuah mata pelajaran menyambutku seperti ini, “Kau Begitu Berharga, Siapa Pun Dirimu”. ^_^ Jadi, siapa pun saya, saya amat berharga. Hehehe! SEMANGAT!!!
-Terinspirasi setelah menonton sebuah film drama siri China, “Dream’s DIY”.. Drama yang menceritakan seorang lelaki yang agak kolot yang bercita-cita menjadi penyanyi terkenal. Impiannya itu terlaksana saat seorang gadis jago nyanyi jatuh cinta padanya. Walau, pada awalnya, mereka bencian habis-habisan. Bahkan, lelaki pernah membuat lelaki tersebut melutut minta maaf padanya. Ah, film memang selalu begitu! (naif? ^_^). Cuma, ada kata-katanya yang menarik seperti ini, …”… tiada cinta, tiada karya….” Maka, lahirlah tulisanku yang mungkin beribu-ribu kali aku edit. ^_^ hehehe! :P (Eh, atau saya yang ketinggalan jaman baru mendengar kata-kata itu?)

 -Juga, tulisanku ini aku tulis untuk mengurangi kebosanan di negeri orang. Ternyata, ke luar negeri tidaklah indah sekali. Sama saja di negeri kita. Ada orang, ada mobil, ada rumah, ada trotoar, ada restoran, ^_^ hahaha! Walau apa pun, saya bersyukur bisa berulang tahun di negeri orang dan seorang gadis China memberiku kado unik. :)

alina @ 1:28 am
Filed under: Cinta